Pegas, Ringan bersama Bekerja Sama: Belajar Karakter berasal dari Konsep Fisika

Pegas, Ringan bersama Bekerja Sama Belajar Karakter berasal dari Konsep Fisika

Pegas, Ringan bersama Bekerja Sama: Belajar Karakter berasal dari Konsep Fisika

Hai sahabat pembelajar, masihkah kalian berasumsi fisika itu sulit? Yuk, terasa belajar bersama kesungguhan hati agar sesuatu yang susah pun bakal gampang dimengerti. Kini saatnya kalian merubah mindset sebab ternyata fisika itu asyik dan menyenangkan. Tuhan udah menitipkan pesan lewat beragam pengetahuan alam yang sering kita temui di dalam kehidupan. Di majalah 1000guru edisi sebelumnya, kita udah belajar tentang rancangan gerak lurus, sikap gigih dan pantang menyerah berasal dari sesosok ban hitam yang banyak digunakan terhadap alat transportasi sehari-hari. Bukankah sahabat pembelajar adalah insan yang gigih dan pantang menyerah di dalam raih mimpi dan cita-cita?

Pegas, Ringan bersama Bekerja Sama Belajar Karakter berasal dari Konsep Fisika

Sebelum masuk ke materi utama, mesti diketahui alasan mengapa kita mesti belajar pendidikan karakter. Salah satu alasannya seperti yang disebutkan di dalam artikel tempat daring Kompas berjudul “Analogi Kehidupan di dalam Konsep Fisika” yang terbit terhadap 18 April 2018, menjelaskan bahwa keliru satu visi Indonesia di dalam pembangunan bangsa adalah upaya peningkatan mutu pendidikan.

Pada jaman sekarang, pendidikan Indonesia punya dua segi utama di dalam peningkatan pengetahuan pengetahuan dan pendidikan karakter. Hal ini sesuai bersama UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang proses pendidikan nasional terhadap pasal 3, yang menyatakan bahwa pendidikan nasional berguna mengembangkan kebolehan dan membentuk pembawaan dan juga peradaban bangsa yang bermartabat di dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Penguatan pendidikan pembawaan juga ditegaskan di dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan

Pendidikan pembawaan terlalu penting dijalani sahabat pembelajar generasi milenial di dalam menghadapi kehidupan jaman modern seperti saat ini ini. Pada kesempatan kali ini, kita bakal membahas rancangan fisika lainnya tentang sebuah benda yang bisa merenggang dan lagi ke bentuk semula, yakni pegas. Karakter apakah yang bisa kita ambil berasal dari benda ini?

Pasti kita udah tidak asing lagi bersama pegas. Kita bisa menemui benda ini di di dalam pulpen atau pensil mekanik yang biasa kita memanfaatkan untuk menulis maupun neraca pegas untuk menimbang. Pegas merupakan keliru satu perumpamaan benda elastis. Artinya, benda itu jika diberi gangguan (gaya) bakal lagi ke bentuk semula. Di segi lain ada pembawaan benda yang seumpama diberi gangguan tidak bisa lagi ke bentuk semula, yang disebut plastis. Berikut ilustrasi yang melukiskan benda elastis.

Jika sebuah pegas digantungkan dan diberi beban (m), pegas selanjutnya bakal bertambah panjang (DL). Semakin besar beban (m), tambah besar pula perubahan panjang (DL) yang dialami pegas. Perbandingan antara beban terhadap perubahan panjang bernilai tetap. Nilai yang senantiasa ini disebut bersama konstanta pegas (k). Perhatikan ilustrasi berikut.

Mari kita telusuri lebih di dalam rancangan fisika tentang pegas bersama simbol. Beban (m) yang digantungkan punya tipe berat sebesar w = m.g, bersama w adalah tipe berat, m adalah beban atau massa benda, dan g adalah percepatan gravitasi bumi. Perbandingan antara tipe berat (w) bersama perubahan panjang (DL) pegas bisa disimbolkan sebagai konstanta pegas (k), yang bisa kita tuliskan di dalam rumus

k = \fracw\Delta L = \fracm.g\Delta L

Berikut ini beberapa keterangan besaran dan satuan:

k = konstanta pegas (N/m)
w = tipe berat (N)
m = massa benda (kg)
g = percepatan gravitasi bumi (m/s^2)
\Delta L = L – L_O = perubahan panjang (m)
simbol \Delta (dibaca: delta) merupakan simbol yang punya arti perubahan atau suasana akhir dikurangi suasana awal.
Dari penjelasan di atas bisa diketahui bahwa tiap tiap pegas punya konstanta pegas sendiri-sendiri. Misalkan sebuah pegas punya konstanta 100 \rmN/m , artinya kala pegas selanjutnya diberi beban seberat 100 \rmN (sekitar 10 \rmkg , jika g = 10 \rmm/s^2 ), bertambahnya panjangnya bakal sebesar 1 \rmm .

Perlu diketahui bahwa tiap tiap pegas punya batas beban maksimal. Jika pegas selanjutnya diberi beban yang melebihi batas beban maksimal, pembawaan elastisnya bakal rusak agar pegas tidak bisa lagi ke bentuk pada awalnya secara sempurna. Misalnya pegas berasal dari pulpen atau pensil mekanik bersama batas maksimal beban bermassa 0,05 \rmkg kita memanfaatkan untuk mengangkat bola basket bermassa 0,5 \rmkg . Apa yang terjadi? Mula-mula pembawaan elastisnya bakal terganggu. Pegas bakal meregang, memanjang dan rusak. Apabila diberi beban yang lebih besar lagi, besar mungkin pegas selanjutnya bakal putus.

Lalu, bagaimana jika di dalam kegiatan pembelajaran, kita diminta untuk menggantungkan beban sebesar 1,2 \rmkg memanfaatkan pegas? Misalkan ada dua macam pegas bersama maksimal beban 0,8 \rmkg dan 0,6 \rmkg . Maka, untuk bisa mencegah beban tersebut, kita bisa merangkai ke-2 pegas dan menggantungkannya secara paralel agar batas maksimal beban menjadi 1,4 \rmkg . Jika pegas dirangkai paralel, beban bakal terbagi secara adil terhadap tiap tiap pegas, dan menjamin beban sesuai bersama kemampuannya. Perlakuan ini pasti saja tidak bakal menyebabkan pegas rusak.

Karakter yang bisa dipelajari berasal dari pegas di dalam kehidupan sehari-hari ini berkenaan waktu kita diberikan beban yang melebihi kebolehan kita. Apakah kita bakal bisa jika mengerjakannya sendiri? Tentu tidak, tetapi kita bisa menerapkan rancangan pegas untuk bekerja serupa di dalam raih tujuan yang sama.

Untuk raih tujuan yang diluar batas kemampuan, kita bisa berkolaborasi bersama orang lain untuk raih tujuan. Lakukan yang terbaik sesuai bersama kebolehan kita, dan belajarlah bekerja serupa bersama orang lain. Berbagai pekerjaan dan tanggung jawab yang melebihi kebolehan kita bisa diselesaikan bersama bekerja serupa agar bakal terasa lebih ringan. Sebuah pepatah terkenal berasal dari Afrika mengiaskan penting dan berharganya kerja sama, “If you want to go fast, go alone. If you want to go far, go together.” Jika anda mendambakan pergi cepat, laksanakan sendirian. Jika mendambakan pergi jauh, laksanakan bersama-sama.

Contoh di atas menyatakan bahwa kita bisa menyita pembawaan berasal dari gejala fisika yang berlangsung di dalam kehidupan sehari-hari. Diharapkan tidak cuman sahabat pembelajar paham rancangan fisika bersama benar, sahabat juga bisa menyita pelajaran berasal dari nilai-nilai kehidupan yang berguna untuk menekuni kehidupan di lingkungan masyarakat. Pada akhirnya, tujuan pendidikan nasional bisa terwujud.

sumber : https://www.ruangguru.co.id/