GSMS, Kenalkan Filosofi Seni Ketimuran Kepada Siswa

GSMS, Kenalkan Filosofi Seni Ketimuran Kepada Siswa
GSMS, Kenalkan Filosofi Seni Ketimuran Kepada Siswa

GSMS, Kenalkan Filosofi Seni Ketimuran Kepada Siswa

 

GSMS, Kenalkan Filosofi Seni Ketimuran Kepada Siswa

 

CIMAHI, DISDIK JABAR

Program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) di Jawa Barat akan segera berakhir. Program tersebut diakhiri dengan adanya pagelaran di sekolah dan penutupan di tingkat provinsi. Salah satu sekolah yang telah menggelar pagelaran tersebut adalah SMA Negeri 1 Cimahi.

Kepala sekolah SMA Negeri 1 Cimahi

Doddy Sularto mengatakan program GSMS telah berlangsung selama enam bulan, dimulai dari sosialisasi hingga penentuan seniman di setiap sekolah. GSMS dilaksanakan selama 27 kali pertemuan dan diakhiri oleh pagelaran budaya yang menampilkan pembelajaran selama program GSMS. Doddy mengatakan, GSMS di Jawa Barat setiap tahunnya berjalan lancar.

“Alhamdulillah GSMS tahun lalu Jawa Barat mendapatkan pujian dari kementrian  karena kegiatan GSMS di sini berjalan baik dari awal sampi akhir dan terdapat pagelarannya. Maka kita dipakai contoh oleh kementrian, bahwa Jawa Barat melaksanakan GSMS dengan berhasil. Bahkan untuk di Jawa Barat, GSMS sudah memiliki anggaran tersendiri, dengan anggaran APBD. Ada GSMS pusat dan provinsi” ujar Doddy saat ditemui disela-sela acara dalam acara Pameran Pembelajaran dan Pagelaran Budaya SMA Negeri 1 Cimahi ke-2 di  Jl. Pacinan No.22 A, Cimahi Tengah, Kota Cimahi pada Rabu, 21 November 2018.

Selain itu, Doddy mengatakan antusias siswa dalam mengikuti GSMS di SMAN 1 Cimahi pun sangat baik

Terdapat 20  siswa yang mengikuti program ini dan mereka menjalakan program ini hingga akhir. Siswa yang terlibat merupakan siswa kelas X dan XI. Seniman yang mengajar di SMAN 1 Cimahi adalah Eneng Subartin. Eneng merupakan seniman tari lulusan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung.

“Seni yang diajarkannya menari, melalui ekstrakulikuler. Semua siswa selalu hadir saat latihan, tidak berkurang. Bahkan ketika gladi (pagelaran) pun luar biasa semua hadir,” ujar Doddy.

Dengan adanya program ini siswa akan belajar kesenian langsung dari pakarnya. Bahkan, Doddy mengatakan siswa dan seniman berkolaborasi membuat tarian yang ditampilkan dalam pagelaran.

“Kalau guru dipembelajaran sehari-hari itu lebih keteori dan kurikulum. Nah ini ada seniman,  gaya seniman dan guru melatih kan beda, di sini ada sentuhan seniman. Sehingga siswa semangat,” ujar Doddy.

Doddy berharap dengan adanya program ini,

siswa tidak hanya mengenal seni moderen barat. Akan tetapi, siswa tidak melupakan kesenian-kesenian daerahnya masing-masing.

“Menyukai seni moderen boleh, tapi jangan melupakan seni tradisional. Kalau di seni tradisional itu memiliki seni adiluhung, ada filosofinya. Filosofisnya itu yang ingin dikenalkan ke anak. Filosofis ketimuran,” ujar Doddy.

Artikel Terkait: