Banyak Siswa Terpaksa Tinggal Kelas

Banyak Siswa Terpaksa Tinggal Kelas
Banyak Siswa Terpaksa Tinggal Kelas

Banyak Siswa Terpaksa Tinggal Kelas

Banyak Siswa Terpaksa Tinggal Kelas
Banyak Siswa Terpaksa Tinggal Kelas

Kasus siswa tinggal kelas rupanya masih terjadi. Termasuk pada SMA/SMK negeri di Surabaya.

Jika dibandingkan dengan SMA, jumlah siswa tidak naik kelas di jenjang SMK justru lebih banyak.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala SMKN 6 Surabaya Siti Rochanah. Pada kenaikan kelas tahun ini, ada 19 anak yang tidak naik ke kelas XI. Lalu, 5 anak juga tidak bisa naik ke kelas XII. Menurut Siti, jumlah itu sudah lebih baik daripada sebelumnya.

Siti mengakui bahwa selama ini banyak siswa didik yang gagal naik kelas karena beberapa alasan. Terutama karena faktor siswa yang tidak bisa mengikuti pembelajaran di jurusan. ’’SMK kan memang beda, kalau sudah nggak cocok sama jurusan ya pastinya susah mengikuti,” katanya.

Menurut Siti, proses pembelajaran di SMK menuntut keterampilan praktik. Tanpa motivasi yang kuat, menurut Siti, anak cenderung enggan meningkatkan keterampilan. ’’Kalau jurusan tata busana, trus nggak suka jahit, misalnya, ya susah mau dapat nilai baik,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Kepala SMKN 1 Bahrun. Pada akhir tahun pelajaran ini, ada 25 anak kelas X yang tidak naik. Lalu, 11 anak kelas XI juga gagal naik ke kelas XII. Hal tersebut disebabkan jumlah bolos yang sudah di luar batas toleransi. ’’Kalau sudah bolos, pasti nilainya tidak bagus,’’ ucapnya.

Demi menekan kasus itu, Bahrun sudah menyiapkan solusi. ’’Ini terkait dengan sikap dan kedisiplinan sebetulnya,” tuturnya. Karena itu, jika kasus bolos tersebut bisa ditanggulangi, masalah akademik akan teratasi.

Di SMKN 3 jumlah siswa yang tinggal kelas lebih banyak lagi. Jumlahnya mencapai 50 siswa.

Mereka gagal naik dari kelas X ke kelas XI. ’’Jangan disebut tidak naik, tapi perlu dibina lagi,’’ jelas Kepala SMKN 3 Mudianto.

Mudianto juga menuturkan bahwa kasus tidak naik kelas disebabkan siswa masuk melalui pilihan kedua. ’’Setelah kami telusuri, ternyata di sini bukan keinginannya,” ujarnya.

Selain itu, pengetahuan siswa ketika memilih atau memasuki jurusan sangat kurang. Dia mengungkapkan, kebanyakan siswa sekadar ’’ingin’’ masuk jurusan, tetapi kurang kesiapan. ’’Nah kalau itu, kami bantu siapkan dan beri pemahaman,” ucapnya.

Kondisi siswa tidak naik kelas juga terjadi di SMA. SMAN 7, misalnya. Di sekolah tersebut ada sekitar 11 siswa yang harus tinggal kelas. ”Ada 7 siswa kelas X dan 4 siswa kelas XI,” terang Kepala SMAN 7 Achmad Djunaidi.

Mayoritas siswa tidak naik kelas lantaran kurang dalam bidang akademik dan sikap.

Siswa yang tidak naik tersebut umumnya memiliki nilai kurang. Yakni, di bawah standar penilaian siswa. Di SMAN 7 kenaikan kelas memang masih terjadi setiap tahun. Namun, jumlahnya fluktuatif, tidak pasti.

Djunaidi mengungkapkan, keputusan untuk tidak menaikkan siswa tersebut sudah sesuai dengan aturan sekolah. Sebelumnya, siswa yang terindikasi memiliki nilai kurang juga sudah diperingkatkan jauh-jauh hari. ”Kami sudah memanggil orang tuannya,” jelasnya.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Cabang Surabaya Sukaryantho menyatakan, keputusan sekolah yang tidak menaikkan siswanya tersebut sah-sah saja. Terutama jika siswa itu tidak memenuhi standar minimal penilaian yang diterapkan sekolah. ”Tidak hanya akademik, namun juga nonakademik,” ucapnya.

Meski begitu, dia menilai ada sekolah yang memiliki siswa tidak naik kelas cukup banyak berarti sekolah tersebut harus segera melakukan evaluasi. Terutama dalam sistem pembelajaran dan manajemen berbasis sekolah (MBS).

Banyaknya siswa yang tidak naik kelas itu juga menjadi cermin bahwa sekolah harus berbedah. Entah dari segi pembenahan materi maupun mencipatkan lingkungan sekolah yang kondusif untuk belajar

 

Sumber :

https://www.techworkshop.net/how-some-informational-websites-helping-people-garner-information-at-one-place/