Kepedulian Lingkungan

Kepedulian Lingkungan
Kepedulian Lingkungan

Kepedulian Lingkungan

Kepedulian Lingkungan
Kepedulian Lingkungan

Kepedulian berarti memberikan perhatian kepada suatu objek penelitian.

Walgito menyatakan bahwa kepedulian merupakan syarat psikologis dari seseorang untuk menjadikan persepsi, yakni pemusatan konsentrasi dari keseluruhan aktivitas individu yang ditunjukkan kepada sesuatu atau sekumpulan obyek. [1] individu yang memperhatikan suatu benda berarti seluruh aktivitas individu dicurahkan dan konsentrasikan kepada objek atau benda tersebut.

Sehubungan dengan masalah perhatian yang dikonsentrasikan kepada suatu objek, Heru dan Bigot dalam buku yang ditulis oleh Sumadi, mengatakan dua macam batasan mengenai perhatian, [2] yaitu (1) pemusatan terapan psikis yang tertuju pada suatu objek ; dan (2) perhatian merupakan banyak sedikitnya kesadaran yang menyertai suatu aktivitas yang dilakukan.

Semakin banyak kesadaran yang ditindaklanjuti dengan aktivitas pengalaman batin, menunjukkan semakin intensif perhatian terhadap suatu objek. Menurut intensivitasnya, perhatian (kepedulian) dibedakan atas : perhatian intensi dan perhatian tidak intensif.

 

Perhatian juga dibedakan menurut proses timbulnya

yakni perhatian spontan, yaitu perhatian kepedulian yang timbul secara mendadak tanpa disengaja dan perhatian yang dikehendaki, yaitu perhatian yang refleks disengaja. Kemudian berdasarkan objeknya, perhatian dibedakan pula atas[3]: perhatian terpencar (distribusi); perhatian terpusat (konsentrasi); dan perhatian berubah-ubah (fluktuasi).

Pada prinsipnya kepedulian akan melahirkan sikap tanggung jawab individu secara positif. Kesadaran yang tinggi terhadap kelestarian lingkungan muncul dari rasa tanggung jawab untuk selalu peduli terhadap bentu-bentuk pencegahan dan perbaikan lingkungan.sedangkan lingkungan hidup yang lestari dapat terjaga bila ada sinergi anatara pemerintah sebagai penentu kebijakan, dan masyarakat sebagai pendukung kebijakan dalam upaya pelestarian.

 

Strategi Pembelajaran

Strategi pembelajaran merupakan hal yang perlu diperhatikan guru dalam proses pembelajaran. Paling tidak ada tiga jenis strategi yang berkaiatan dengan pembelajaran, yakni (1) strategi pengorganisasian pembelajaran (2) strategi penyampaian pembelajaran; dan (3) strategi pengelolaan pembelajaran.[4]

Strategi memiliki pengertian suatu garis-garis besar haluan untuk berindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi dapat diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru anak didik dalam perwujudan dalam kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.[5]

Ada empat strategi dasar dalam pembelajaran yang meliputi hal-hal berikut

. (1) Mengidentifikasi serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan ingkah laku dan kepribadian siswa seperti yang diharapkan; (2) memilih sistem pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup masyarakat; (3) memilih dan menetapkan prosedur, metode dan teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif; (4) menetapkan kriteria serta standar keberhasilan, yang berfungsi sebagai pedoman guru dalam melakukan evaluasi.

Proses pembelajaran akan berjalan secara optimal jika adanya rencana pembuatan strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran menurut Arthur L.Costa (1985) merupakan pola kegiatan pembelajaran berurutan yang diterapkan dari waktu ke waktu dan diarahkan untuk mencapai suatu hasil belajar siswa yang diinginkan. Strategi pembelajaran juga untuk mencapai komponen yang ada dalam pembelajaran.[7]

Sumber : https://uberant.com/article/556675-chemical-periodic-table-system/