Dari Tambora yang Dulu Sangar Kini

Dari Tambora yang Dulu Sangar Kini
Dari Tambora yang Dulu Sangar Kini

Dari Tambora yang Dulu Sangar Kini

Dari Tambora yang Dulu Sangar Kini
Dari Tambora yang Dulu Sangar Kini

 

Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar kataTAMBORA? Bagi Anda pecinta wisata gunung, pecinta alam gunung, penikmat sejarah alam dan budaya, pengamat atau pecinta gunung berapi, atau traveler mesti tahu dan mungkin pernah mendaki. Ya, gunung Tambora sekarang menawarkan keindahan, kemegahan, keramahan, keragaman hayati, dan masih banyak lagi. 
Bahkan Kalderanya merupakan yang terbesar di dunia. Tapi pertanyaannya, apakah Anda sudah atau pernah ke Tambora? Jawabannya, hanya ada disana dan ….. nikmatilah secara langsung. 
Gunung Tambora merupakan sebuah gunung dengan tipe stratovolcano aktif yang berada di pulau Sumbawa. Tambora terletak di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Kisah Tambora terdapat dalam naskah kuno yang disebut Bo Sangaji Kai milik Kesultanan Bima. Naskah ini ditulis dalam bahasa Arab-Melayu oleh juru tulis istana sekitar tahun 1600 – 1800 M.Ina Kau Mary (Ibu Besar Maryam yang nama lengkapnya Siti Maryam Salahuddin) yang merupakan keturunan terakhir Kesultanan Bima, membacakan kisah sebelum meletusnya Gunung Tambora yang tertulis dalam naskah Bo. Meski sudah cukup tua (88 tahun), Maryam masih semangat membacakan naskah Bo (newsdetik.com).

Beberapa hari sebelum letusan hebat tersebut terjadi, Raja Tambora mengirim utusan ke Bima, untuk mencari tahu apa yang terjadi. Sebab saat itu Gunung Tambora sudah cukup bergejolak.

“Karena sudah beberapa hari, ada bunyi di dalam gunung, ada letusan. Orang-orang ketakutan, ada apa ini. Raja kirim utusan ke Bima untuk selidiki,” cerita perempuan yang akrab disapa Ina Kau Mary ini di kediamannya, Jl Gajahmada 1, Kota Bima, NTB.

Goncangan itu tak hanya dirasakan di sekitar Tambora saja, namun juga hingga ke Kota Bima. Sebaliknya, Belanda yang kala itu sudah mulai menduduki NTB, juga mengirim utusan untuk mengecek kondisi di Tambora. Namun sang utusan tak pernah kembali. Tambora meletus pada 1815.

Itulah cerita letusan Tambora dalam naskah Bo Sangaji Kai. Iya, Tambora menjadi terkenal di dunia internasional karena letusannya pada 11 April 1815 yang merupakan terbesar dan dahsyat sehingga menyebabkan kematian lebih dari 71.000 jiwa. Sebagaimana dikutip oleh Wikipedia (2015), letusan terjadi, diikuti dengan suara guruh yang terdengar di Makassar, Sulawesi (380 km dari gunung Tambora), Batavia (kini Jakarta) di pulau Jawa (1.260 km dari gunung Tambora), dan Ternate di Maluku (1400 km dari gunung Tambora). Suara guruh ini terdengar sampai ke pulau Sumatera pada tanggal 10 -11 April 1815 (lebih dari 2.600 km dari gunung Tambora) yang awalnya dianggap sebagai suara tembakan senapan. Pada pagi hari tanggal 6 April 1815, abu vulkanik mulai jatuh di Jawa Timur dengan suara guruh terdengar sampai tanggal 10 April 1815.

Menurut peneliti gunung api dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Departemen ESDM Igan Sutawijaya dalam seminar Jelang 2 abad letusan Tambora di LIPI, (news.detik.com), akibat letusan ini, volume material yang dimuntahkan 3 kali lebih banyak dari letusan Krakatau. Hujan abu ini sejauh 1.300 Km, dengan dentuman dari kawah terdengar hingga jarak 2.600 Km. Semburan abu dari letusan Gunung Tambora menutupi permukaan bumi sehingga membuat wilayah utara bumi mengalami penurunan suhu sampai beberapa tahun tanpa musim panas. Selain itu, aliran lava yang menuju laut mengakibatkan tsunami dengan tinggi gelombang 4 meter. Aliran lava dan debu ini menyebar di area 874 Km persegi dengan ketebalan 7 meter. Lava dan debu ini menghanguskan apa pun yang dilewatinya, termasuk manusia, pohon dan buah-buahan. Suhu awan panas mencapai 1.000 derajat Celsius sehingga menghanguskan apapun yang ditemuinya.

Letusan tersebut tiga kali lebih dahsyat daripada letusan gunung Krakatau pada tahun 1883. Sangat dahsyatnya sehingga ketinggian gunung Tambora yang tadinya 42.000 meter menjadi 2.851 meter di atas permukaan laut. Itulah gambaran sangarnya gunung Tambora saat itu yang menjadi perhatian internasional karena letusan dan efeknya.
Bukti-bukti arkeologis pascaletusan setelah 200 tahun ditemukan oleh para peneliti. Sisa-sisa Kerajaan Tambora dan Kerajaan Pekat berhasil ditelusuri peneliti dari Universitas Rhode Island Amerika Serikat, Prof. Haraldur Sigurdsson pada tahun 2006. Hasil penelusuran pada waktu itu kemudian diberitakan BBC dengan judul ‘Pompeii dari Timur’. Tim tersebut menggali bukti adanya kebudayaan yang hilang yang musnah karena letusan gunung Tambora. Situs tersebut terletak 25 km sebelah barat kaldera, di dalam hutam, 5 km dari pantai. Mereka menggali kembali rumah dan mereka menemukan sisa dua orang dewasa, dan juga mangkuk perunggu, peralatan besi dan artifak lainnya. Desain dan dekorasi artifak memiliki kesamaan dengan artefak dari Vietnam dan Kamboja. Hal ini menunjukan majunya kebudayaan di Sumbawa waktu itu.