Mengkader Ulama’ Sekaligus Politikus

Mengkader Ulama’ Sekaligus Politikus

Sementara orang mengantarai antara peran ulama dan peran politikus. Mereka berpendapat bahwa, ulama mestinya mengurus umat saja, dan tidak mesti ikut-ikut mengurus politik. Kegiatan politik agar diurus oleh politikus. Begitu pula sebaliknya, politikus tidak mesti ikut mengurus agama. Bidang itu agar diurus oleh ahli-ahli agama.

Atas basic alasan profesionalisme, ulama diharapkan mengurus agama dan politikus ngurus negara. Pandangan itu seolah-olah tepat. Pemisahan itu dimaksudkan agar tidak berlangsung campur aduk antara mengurus agama dan ngurus politik. Keduanya mesti ditangani secara profesional. Pemisahan itu dapat menjauhkan sikap-sikap mendua, antara peran sebagai ulama, yakni membimbing umat agar beragama, dan sebagai politikus yang mesti mengurus negara.

Namun demikian, asumsi selanjutnya jadi tidak tepat kecuali Islam dipahami bukan saja mengurus agama melainkan juga peradaban secara luas. Islam adalah ajaran mengenai tata kehidupan secara menyeluruh. Ajaran Islam bukan saja menyangkut kegiatan di masjid atau kegiatan ritual seperti shalat, puasa, zakat, dan haji, melainkan juga menyangkut kasus pengetahuan pengetahuan, ekonomi, politik, hukum, manajemen, dan seluruh hal yang berkenaan bersama kehidupan yang luas ini.

Manakala ulama Islam hanya terbatas mengurus masjid, tampil memimpin shalat berjama’ah, berdoa, mengurus soal-soal pernikahan, kematian, waris, dan sejenisnya, maka peran itu dapat berikan kesan bahwa ajaran Islam amat sempit dan terbatas. Sebagai seorang ulama di dalam Islam, mereka mesti bisa merintis hidup bahwa di malam hari selalu mendekatkan diri pada Allah dan di siang harinya tampil tangguh memimpin penduduk di bidang ekonomi, politik, pendidikan, sosial dan lain-lain.

Manakala di sedang penduduk terkandung seorang yang berjubah dan bersurban memimpin dzikir, mengimami shalat, pergi umrah dan haji, maka hal itu tidak boleh dimaknai bahwa sosok pemimpin Islam hanya hanyalah itu. Boleh-boleh saja seseorang menampakkan diri atau mengambil peran sebagai tokoh spiritual, tetapi pemimpin Islam memang tidak hanyalah itu. Seseorang yang paham kitab suci al Qur’an dan menghayati tradisi kehidupan Nabi, tidak cuman sehari-hari mobilisasi kegiatan ritual juga mestinya berjuang menegakkan keadilan, kejujuran, kesejahteraan ekonomi masyarakat, beramar makruf nahi mungkar. Mereka itu adalah amat tepat disebut sebagai ulama dan atau pemimpin Islam.

Sejarah bangsa Indonesia selalu menyebut mengenai peran penting partai politik Islam di dalam merebut kemerdekaan dari penjajah. Demikian pula selalu disebutkan para tokoh-tokoh Islam di dalam menyusun basic negara dan berbagai perundang-undangan lainnya. Pancasila dan UUD 1945 bersama rumusannya seperti sekarang ini adalah tidak lepas dari sumbangan para politikus Islam disaat itu. Peran-peran para ulama dan juga kyai di dalam histori perjuangan bangsa ini sedemikian jelas, baik sebelum saat maupun sehabis kemerdekaan. Hal itu seluruh menyatakan bahwa, betapa besar dan pentingnya para ulama dan atau tokoh Islam di dalam mengambil peran politik di negeri ini.

Beberapa kala yang lalu, aku menghadiri halaqoh nasional para ulama yang mengambil area di Gorontalo. Pada kala itu dihadirkan para ulama dari berbagai wilayah, juga aku sebagai pembicara. Kegiatan yang diikuti oleh tidak kurang dari 200 an ulama itu membicarakan mengenai ulama masa depan. Para pembicara rupanya lebih tertarik untuk menyadarkan dapat berlangsung kelangkaan ulama di masa depan. Disebutkan bahwa telah berlangsung makin terbatasnya kader ulama, baik secara kuantitas maupun kualitasnya. Gambaran itu rupanya meraih pembenaran dari para peserta halaqoh.

Saya sebagai pembicara terakhir berupaya membalik seratus delapan puluh derajad dari seluruh pandangan yang telah dilontarkan sebelumnya. Ketika itu aku mengatakan bahwa sekarang ini tidak mesti memprihatinkan kader ulama. Bahwa ulama masa depan jauh lebih tangguh dari ulama masa lalu. Lembaga pendidikan Islam yang pada kala ini makin banyak dan makin maju, adalah sebagai area kaderisasi para ulama. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang misalnya, bersama lakukan inovasi dan pembaharuan, yakni di antaranya menggabungkan antara tradisi pesantren dan universitas, dihasilkan kader-kader ulama yang sekaligus intelektual, dan intelektual yang sekaligus ulama.

Tidak sedikit para lulusannya yang menghafal al Qur’an dan sekaligus mendalami di bidang ilmu-ilmu modern seperti biologi, kimia, teknik, psikologi, ekonomi, pendidikan, bhs dan sastra, dan lain-lain. Lulusan bersama kebolehan atau kebolehan seperti itu diharapkan bisa tampil sebagai sosok pemimpin di masa depan yang lebih berkwalitas dibandingkan bersama produk pemimpin atau tokoh Islam masa lalu. Tentu para lulusan dari kampus itu tetap butuh penempaan sesudah itu di tengah-tengah masyarakat. Manakala mereka meraih kesempatan untuk tumbuh, maka dapat amat dimungkinkan mereka jadi pemimpin Islam yang lebih handal.

Artikel Lainnya : https://tokoh.co.id/biodata-blackpink-all-member-dan-fakta-terlengkap/

Dalam kesempatan itu, para peserta hakaqoh, aku ajak secara bersama-sama merasakan keprihatinan pada peran-peran ulama di dalam kancah politik pada akhir-akhir ini yang makin merosot. Tatkala dihembuskan kesimpulan bahwa ulama tidak mesti ikut di dalam politik, ternyata dipercaya. Akibatnya, banyak ulama yang meninggalkan politik. Bahkan organisasi Islam juga dijauhkan dari politik. Sepertinya di dalam Islam tidak tersedia ajaran mengenai politik dan negara. Padahal Islam adalah mengajarkan kesejahteraan dan kebahagiaan, baik di dunia dan di akherat. Kesejahteraan dan kebahagiaan didunia tidak dapat bisa diwujudkan manakala tidak diperjuangkan. Kegiatan memperjuangkan kesejahteraan, kemakmuran, dan kebahagiaan bersama, itulah politik. Islam mengajarkan mengenai itu semua.

Umat Islam mesti mengkader ulama dan sekaligus politikus, atau politikus yang sekaligus ulama. Para ulama pada kala ini mestinya terasa prihatin bahwa peran-peran ulama di di dalam kehidupan politik telah makin terpinggirkan. Partai politik yang beridentitas Islam makin ditinggalkan. Begitu pula para tokoh makin tidak berani mengklaim diri sebagai pemimpin politik Islam, mereka cemas dianggap tidak populer. Gambaran itu, mestinya dirasakan sebagai sesuatu yang memprihatinkan dan segera meraih jalur keluarnya. Tokoh-tokoh Islam mesti mengkader calon ulama dan sekaligus politiku. Selain itu, mereka mesti segera bangkit dan bergerak, membangun penduduk di dalam berbagai bidang, baik pendidikan, agama, politik, ekonomi, hukum, dan lain-lain.

Baca Juga :