Terobosan Brilian Rizal Ramli

Terobosan Brilian Rizal Ramli

Ribuan karyawan PT Telkom (Telekomunikasi Indonesia) melaksanakan aksi menentang gagasan penghapusan kepemilikan silang (cross ownership) dan manajemen silang (cross management) antara PT Telkom dan PT Indosat di puluhan anak perusahaan. Ide ini pernah dicetuskan oleh Menko Perekonomian, Rizal Ramli.

Pelaksanaan pemisahan kepemilikan silang semakin dekat, ribuan karyawan PT Telkom datang ke kantor Departemen Perhubungan di Jalan Medan Merdeka, Jakarta, dan berharap pemerintah membatalkan rencana tersebut.

Berkenaan bersama dengan momen tersebut, Menteri Perhubungan Agum Gumelar mengontak Menko Perekonomian Rizal Ramli. Rizal Ramli sigap merespons. “Pak Agum, tolong di terima 100 orang perwakilan karyawan di Gedung Indosat. Pilih yang paling bandel,” kata Rizal Ramli lewat telepon. Ia termasuk berharap segenap jajaran direksi dan komisaris PT Telkom dan Indosat berkunjung ke kantor Indosat.

Begitu memasuki Gedung Indosat, rapat dadakan berjalan antara Menko Perekonomian Rizal Ramli, Menteri Perhubungan Agum Gumelar, Dirut Telkom Muhammad Nazif, Dirut PT Indosat Harry Kartana, beserta segenap direksi lain dan komisarisnya.

Suasana memanas, para demonstran masih menuntut kepemilikan silang dan manajemen silang supaya dibatalkan. Rizal Ramli langsung berdiri dan berteriak lantang: “Siapa pemimpin kalian. Ayo angkat tangan!” Suasana menjadi senyap. Tak satu pun karyawan yang angkat tangan.

Dia sengaja menggertak untuk mengukur seberapa besar kadar militansi para pendemo itu. Lalu, Rizal menyatakan, apa yang menjadi tuntutan karyawan Telkom bakal ditampung dan diputuskan pas itu juga. Sebaliknya, kecuali tuntutan itu tidak benar, tidak wajar, dan mengadaada, pasti saja perlu dicabut. “Nah, apa keberatan kalian?” tanya Rizal.

Seorang karyawan Telkom menyatakan, ia tidak sepakat bersama dengan kebijakan tersebut, dikarenakan statusnya sebagai karyawan Telkom bakal beralih menjadi karyawan Indosat. “Saya tidak rela dikarenakan gaji Indosat lebih rendah berasal dari gaji Telkom,” ujarnya.

Rizal Ramli langsung mengkonfirmasikan hal itu. Ternyata, berasal dari penjelasan direksi Telkom maupun Indosat, yang beralih statusnya berasal dari karyawan Tekom ke Indosat justru bakal mendapatkan kenaikan gaji! Rizal pun langsung meledak. Ia terasa kecewa dikarenakan direksi Telkom dan Indosat dinilai tidak mobilisasi kewajibannya untuk mengatakan kebijakan pemerintah perihal diakhirinya kepemilikan dan manajemen silang kedua BUMN itu di sejumlah anak perusahaan secara tuntas dan transparan. Mendengar bosnya “disemprot”, para karyawan bertepuk tangan.

Satu demi satu tuntutan karyawan dievaluasi. Yang benar dan lumrah langsung dieksekusi. Sebaliknya, yang tidak benar, langsung ditolak. Ada salah satu sikap keras para karyawan yang tidak rela terima kebijakan pemisahan itu. “Saya tidak hiraukan apa alasannya. Kalau pemisahan itu menjadi dilakukan, saya bakal tuntut Menko Perekonomian ke pengadilan,” kata seorang karyawan.

Mendengar ucapan karyawan tersebu Rizal Ramli tersenyum. “Silakan tuntut saya. Sebab, didalam peristiwa hidup saya, sejak mahasiswa, udah dituntut lebih 12 kali di pengadilan. Dan didalam banyak kasus, saya menang terus,” ujarnya.

Pertemuan yang tadinya diperkirakan bakal alot dan panas itu, berakhir bersama dengan menyenangkan. Pengurus Sekar Telkom berpelukan bersama dengan Menteri Perekonomian Rizal Ramli, Menteri Perhubungan Agum Gumelar, dan segenap pimpinan Telkom serta Indosat. Mereka terasa puas, dikarenakan beraneka keluhan yang disampaikan bukan hanya ditampung, melainkan diselesaikan pas itu juga.

Dapat Dana Rp 5 Triliun tanpa Kehilangan Saham
Satu hal yang menjadi dasar penghapusan kepemilikan silang dan manajemen silang yaitu terhadap pemerintahan Gus Dur-Megawati dikala itu perlu dana banyak untuk menambal Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN).

Anjuran Dana Moneter Internasional (IMF)-Bank Dunia (World Bank), Jual saham-saham BUMN yang bagus dan menguntungkan. Hasil penjualannya, dipakai membiayai APBN. Sangat sederhana. Tapi, kecuali privatisasi type IMF-Bank Dunia itu dijalankan, sebagaimana dijalankan di Rusia terhadap masa pemerintahan Boris Yeltsin terhadap tahun 1991-1999, ternyata arahnya berbelok berasal dari privatisasi menjadi piratisasi dengan kata lain perampokan. Istilah itu diungkapkan oleh Prof. Marshall Goldman berasal dari Harvard University, Amerika Serikat.

Akibatnya raja-raja ekonomi baru bermunculan, yaitu mereka yang dapat bersama dengan cepat menumpuk kekayaannya bersama dengan memborong aset BUMN yang harganya supermurah. Sebagai Menko Perekonomian, Rizal Ramli ogah mengobral saham BUMN yang bagus seperti PT Telkom dan PT Indosat, yang sahamnya dikenal sebagai saham blue chips di Bursa Efek Jakarta. Apalagi keduanya udah dual listing bersama dengan mencatatkan sahamnya di pasar modal Nasdaq, Amerika.

Jika terpaksa melaksanakan privatisasi, Rizal lebih menentukan bersama dengan menjajakan saham BUMN ke publik lewat mekanisme pasar modal. Dengan langkah itu, para pemilik uang di didalam negeri, termasuk lembaga-lembaga
keuangan nasional yang miliki sumber dana berlebih, berkesempatan belanja saham BUMN itu secara kompetitif.

“Saya tidak rela melaksanakan privatisasi ugal-ugalan seperti itu,” kata Rizal. Selain itu, yang dilepas ke publik termasuk bukan BUMN pencetak duit, seperti Telkom dan Indosat, melainkan BUMN yang kinerjanya
memble.

Penjualan saham BUMN lewat pasar modal adalah langkah yang konvensional. Ada langkah inovatif dan terobosan baru yang dijalankan Rizal Ramli untuk menggaet dana tanpa perlu melego selembar pun saham BUMN. Caranya, itu tadi, mengatasi kepemilikan silang dan manajemen silang antara PT Telkom dan Indosat.

Harap maklum, dikala itu Telkom dan Indosat miliki puluhan anak perusahaan yang dimiliki dan dikelola bersama, antara lain, PT Telkomsel, PT Satelindo, dan PT Lintas Arta. Dalam rapat tertutup bersama dengan Menteri Perhubungan Agum Gumelar, yang dihadiri segenap direksi dan komisaris kedua BUMN itu, Menko Perekonomian Rizal Ramli mencetuskan gagasan penghapusan cross ownership dan cross management tadi.

“Pemerintah menghendaki, kepemilikan silang dan manajemen silang di anak-anak perusahaan PT Telkom dan Indosat diakhiri, supaya bakal tercipta persaingan yang fair. Rakyat sebagai customer bakal lebih diuntungkan. Bukan terus-terusan mempraktikan kerjasama terselubung yang condong merugikan rakyat,” kata Rizal, membeberkan alasan yang melatarbelakangi gagasan pemisahan kepemilikan saham kedua BUMN itu.

Satu faedah perlu berasal dari pemisahan kepemilikan silang dapat mendatangkan dana fresh bagi keuangan negara sebesar Rp5 triliun. Uang itu berasal berasal dari pajak transaksi dan pajak revaluasi aset kedua BUMN. Bisa dibayangkan, mendapatkan dana ekstra Rp5 triliun tanpa kehilangan saham. Sebuah terobosan yang amat tidak lazim.

Baca Juga :